Header Ads

Wartawan Senior Tegur Keras Ma'ruf Amin, "Berbahasa yang Baik, Jangan Seperti Orang Tuna Susila"


Dalam sebuah kunjungan, Ma'ruf Amin, cawapres nomor urut satu, menyindir orang yang selalu nyinyir.

Menurut MA, selama ini yang tidak bisa melihat prestasi Jokowi hanya orang-orang yang matanya buta, dan telinganya budeg lah yang tidak bisa melihat dan mendengar prestasi Jokowi.

"Karena itu maka harus dibukakan matanya, harus telinganya dibolongi supaya mendengar, supaya melihat. Dan saya kira hari ini akan mulai membuka telinga-telinga yang budeg-budeg itu. Semakin hari, semakin banyak yang memahami," ungkap Ma'ruf. 

Menanggapi hal tersebut, seorang wartawan senior menuliskan betapa pentingnya berbahasa yang baik. Terlebih dalam bahasa Jawa yang mempunyai tingkatan.

Berikut teguran keras yang dilansir dari laman facebooknya :

Berbahasa itu ada tingkatnya. Terutama bahasa Jawa. Pemakaiannya disesuaikan dengan konteksnya. Namanya unggah-ungguh. Atau tata krama.

Pilihan kosa kata, dalam bahasa Jawa, bisa menunjukkan derajat seseorang. Misalnya, seseorang yang bertanya kepada teman sebayanya apakah sudah mendengar kabar, akan bilang begini, ‘’Opo wis krungu, Bro?’’

Lain lagi kalau orang itu bertanya kepada orang yang lebih tua. Atau tokoh yang dihormati. Dia akan mengatakan, ‘’Nopo Panjenengan sampun mireng?’’

Pilihan kosa kata juga dipengaruhi suasana kebatinan atau perasaan. Orang yang sedang jengkel hatinya biasanya memilih kata-kata yang kasar. Misalnya, ‘’Kupingmu budeg ya!’’

Budeg artinya tuli. Tapi kata budeg itu sangat kasar. Kata itu digunakan orang Jawa yang sedang jengkel karena orang lain tidak mau mendengarkan omongannya.

Dalam keadaan normal, orang Jawa punya pilihan kata yang lain. Bukan budeg. 

Untuk teman sebaya, ucapannya begini, ‘’Opo ora krungu, Bro?’’

Kalau berbicara dengan orang tua atau orang terhormat, kalimatnya menjadi begini, ‘’Nuwun sewu, nopo panjenengan sampun mireng?’’

Saya belum pernah mendengar kalimat, ‘’Opo kowe budeg, Bro?’’

Apalagi kalimat seperti ini, ‘’Nopo panjenengan budeg, Pak?’’

Untuk menjelaskan kepada seseorang bahwa orang lain tidak bisa mendengar, orang jawa biasanya menggunakan kata tuna rungu. Bukan budeg.

Misalnya, ‘’Mas Joko iki tuna rungu.’’

Kata kasar yang mirip-mirip dengan budeg adalah picek. Artinya buta. Orang Jawa menggunakan kata picek untuk mengumpat. Perasaannya marah, karena orang lain tidak memandang dirinya.

Misalnya, ‘’Matamu picek ya!’’

Dalam keadaan normal, orang Jawa punya pilihan kata yang lebih baik dan sopan: wuta, atau tuna netra.

Tuna rungu dan tuna netra merupakan kosa kata bahasa Jawa, yang diserap menjadi kosa kata bahasa Indonesia. Demikian pula kata tuna susila.

Kata tuna susila merujuk orang yang kelakuannya minus. Tidak tahu sopan santun. Tidak kenal unggah-ungguh. Tidak paham tata krama. Siapa pun dia.

Joko intarto, wartawan senior


Download Aplikasi Berita Radar Pribumi di SINI

Silahkan KLIK LIKE :







Tidak ada komentar