Header Ads

Membongkar Intelijen Kelas Coro yang Coba Menzalimi HRS di Arab Saudi


Sehabis Sholat Subuh sambil menunggu pagi saya iseng-iseng mencoba mencari tahu informasi "ditangkap" nya Habib Rizieq.

Diakui atau tidak, menurut saya sosok Habib telah menjadi simbol perlawanan terhadap rezim ini.

Karena itu pemikiran pro maupun kontra terhadap beliau tidak akan bisa dilepaskan dari sudut pandang dan pilihan politik dari media yang memberitakan.

Cuma saya tidak bisa menahan tawa membaca berita dari Tempo.co yang berjudul "10 Poin Keterangan Dubes RI Soal Penangkapan Rizieq Shihab".

(https://nasional.tempo.co/read/1144011/10-poin-keterangan-dubes-ri-soal-penangkapan-rizieq-shihab).

Tentu saja poin-poin betapa Dubes dan Ibu Menlu harus pontang-panting membela Habib sudah cukup lucu.

Tapi paling lucu menurut saya adalah penutup pada poin ke sepuluh yang akan saya kutip :

" KBRI dan KJRI akan mewakafkan diri untuk pemihakan dan pelayanan kepada seluruh ekspatriat Indonesia di Arab Saudi".

Haloo....

Bukannya baru minggu lalu ada TKW kita yang dipenggal lehernya di Saudi tanpa notifikasi?

Jadi "kasus" Habib ini menurut saya tidak lebih dari permainan intelijen kelas coro.

Kalaupun betul beliau dipanggil karena ada bendera mirip milik Hate-i atau Isis atau organisasi apalah yang berisi Kalimat Tauhid dan dianggap condong berisi ajaran terorisme yang ditempelkan di dinding rumah beliau, pertanyaannya adalah :

Untuk apa Habib menempelkan bendera mirip Hate-i di dinding rumah-nya?

Beliau ketua FPI bukan Ketua HTI.

Lagipula tujuannya untuk apa?

Apa untuk memenuhi tantangan si monyet romli?, gila...sampai segitunya ya.

Dan bagi Gerombolan Bersarung Tanpa Kolor, sebelum kalian dangdutan merayakan kemenangan, perlu kalian catat dan ingat ; Polisi Saudi mengamankan bendera yang berisi kalimat tauhid tersebut dengan hormat serta menyimpannya dengan rapi.

Bukan malah membakarnya sambil bernyanyi-nyanyi mirip ulah gerombolan PKI dan Gerwani yang dulu membantai para Pahlawan Revolusi dengan keji di Lubang Buaya.

Sekali lagi menurut saya, kasus ini cuma permainan intelijen kelas coro.

Tolong di catat, saya tidak menuduh intelijen negara tertentu. Sekarang permainan spionase sudah lumrah dan hampir setiap lembaga, partai, ormas bahkan perusahaan memilikinya.

Praktek membusukkan lawan memang paling mudah. Ibarat melempar batu sembunyi tangan, lawan bisa langsung benjol dan tersungkur dan mari biarkan batu yang jadi terdakwa.

Tapi bagi yang masih bisa bernalar dengan sehat, segala tipu-daya mereka justru membuat persatuan kita makin erat dan kuat.

Logikanya sangat sederhana, siapa yang diuntungkan apabila Habib bermasalah di Saudi Arabia?

Lagipula bukannya mereka yang meng-kriminalisasi Habib sampai harus Hijrah ke Mekah?, sekarang kok berkoar-koar di media dan merasa jadi Pahlawan Kesiangan.

Sudahlah, pertarungan konstitusi tersisa enam bulan lagi. Nikmatilah sisa kekuasaan mu karena berdasarkan fakta dilapangan mayoritas rakyat menginginkan perubahan.

Mau ngawinkan anak bungsumu?, si ndeso bertampang culun itu. Monggo...selagi masih ada sisa waktu.

#TirikYaluk
Azwar Siregar

Download Aplikasi Berita Radar Pribumi di SINI

Silahkan KLIK LIKE :







Tidak ada komentar