Header Ads

VIRAL! Guru Spiritual Ungkap Misteri Ikan Mas Raksasa dan Tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba


Rismon Raja Mangatur Sirait,  seorang guru spiritual batak, mengungkap misteri tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba.

Rismon Sirait mengunggah tulisan berikut gambar ikan mas ukuran besar yang disebut hasil tangkapan pemancing di Danau Toba, tepatnya di kawasan Tao (Danau) Silalahi, Desa Paropo, Kecamatan Silahi Sabungan, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

Ia mengaitkan tangkapan ikan mas tersebut dengan musibah karamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun, Senin (18/6/2018) sekitar pukul 17.15 WIB. Kapal menyeberang dari Simanindo, Kabupaten Samosir menuju Tigarsa, Kabupaten Simalungun. Hingga Kamis ini, pencarian para korban masih dilakukan.

Melalui akun Facebooknya, Rismon mengunggah informasi, Rabu (20/6/2018) pukul 10.20 WIB, menulis, “Tanggal 17 Juni 2018 pukul 16:30 Ikan mas seberat 14 Kg didapat pemancing di Desa Paropo Tao Silalahi.

Ikan Mas paling besar dan saya juga yakin ini paling besar didapat di Danau Toba dalam kurun waktu 20 Tahun terakhir.”

Menurut cerita disana para pemancing tidak mengindahkan larangan dan saran orang tua agar ikan Mas ini dilepas kembali ke Danau Toba.

Dengan bangganya para pemancing tidak mengindahkan saran orang tua disana langsung membawa ikan Mas ini kerumahnya untuk di masak dan dimakan.



Tanggal 18 Juni pukul 16:30 WIB angin puting beliung di atas Danau Toba tepat di Tao Silalahi Paropo, hingga membuat ombak besar yang nota bene banyak mengakui yang sudah lama tinggal dipinggiran Danau Toba belum pernah melihat ombak setinggi 3-4 m dan ketebalan ombak 2 m.

Tanggal 18 Juni 2018 pukul 16:35 seluruh kawasan Danau Toba diterpa angin kencang hingga ke darat. Angin kencang dan ombak besar dari Tao Silalahi Paropo ke jalur penyeberangan Simanindo ke Tigaras berjarak kurang lebih 15 km”

Menurut Rismon Sirait, Minggu (17/6/2018) sekitar pukul 16.30 WIB, seorang pemancing di Tao (Danau) Silalahi, tepatnya Desa Paropo, Kecamatan Silahi Sabungan Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara, mendapatkan ikan mas seberat 14 kilogram. Ikan mas warna keemasan.

Desa Paropo kini menjadi salah satu destinasi tujuan wisatawan Indonesia dan mancanegara di Sumatera Utara. Perjalanan menuju Paropo dari Kota Medan membutuhkan waktu tempuh 3-5 jam, via jalur darat Kota Medan – Brastagi (Kabupaten Karo) - Kabupaten Dairi.

Ikan hasil pancingan ini cukup menghebohkan warga sekitar karena ukurannya yang luar biasa.

Sirait bahkan menyatakan bahwa ikan itu adalah ikan mas terbesar yang pernah didapat di Danau Toba dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.

“Bicara hal mistis, percaya atau tidak percaya, semua kembali ke pribadi masing-masing,” tulisnya.

“Menurut cerita di sana, para pemancing tidak mengindahkan larangan dan saran orang tua agar ikan mas ini dilepas kembali ke Danau Toba,” kata Sirait.

Sirait mengatakan, dengan bangganya para pemancing tidak mengindahkan saran orang tua di sana dan langsung membawa ikan mas ini ke rumah untuk dimasak dan dimakan.

Sehari kemudian, sambung Sirait, terjadilah angin puting beliung di atas Danau Toba tepat di Tao Silalahi Paropo, hingga menimbulkan ombak besar.

Menurut warga di pinggiran Danau Toba, sebelumnya tidak pernah terlihat ombak setinggi 3-4 meter dan ketebalan ombak 2 meter seperti yang terjadi pada sore itu.

Lepas dari pembahasan masalah mistis, Sirait juga menambahkan bahwa zona lintasan kapal KM Sinar Bangun yang kecelakaan di Danau Toba Senin lalu adalah zona berbahaya yang dilintasi bila besar ombak tidak seperti biasanya.


Saat dihubungi Tribun Medan, Sirait menyadari bahwa tulisannya yang menghubungkan kejadian tenggelamnya Kapal Motor Sinar Bangun terkait dengan penangkapan ikan mas raksasa menuai kontroversi.

“Itu hak orang tidak setuju dengan saya. Saya tidak paksakan percaya. Tapi saya bicara dari kearifan lokal dan spiritual,” katanya.

Sirait yang menyebut diri sebagai Guru Spiritual Danau Toba menuturkan bahwa dirinya percaya penangkapan ikan mas berbuah malapetaka karena telah menjalankan ritual di Danau Toba.

“Saya percaya karena saya semalam sudah melakukan parsantabian penghormatan ke penghuni dan penjaga Danau Toba, Sitolu sadalanan, yaitu Sibiding Laut, Siboru Pareme, dan Namboru Naiambaton.”

“Semalam pukul 11 di TKP (tempat kejadian) saya sudah sampaikan napuran pitu atup,” ujarnya.

Napuran pitu atup adalah daun sirih tujuh lapis dengan telor ayam kampung tiga butir yang dibarengi dengan pembakaran dupa serta kemenyan.

Ulasan Sirait ini tentu sangat subyektif. Pembada boleh percaya, tidak percaya pun boleh.

(ton/tribun-medan.com)

Download Aplikasi Berita Radar Pribumi di SINI

Silahkan KLIK LIKE :







Tidak ada komentar