Header Ads

Kronologi Lengkap Ibu Bunuh Anak Kandungnya, Sempat Terdengar Teriakan Minta Tolong, Lalu...


Suasana duka tampak menyelimuti rumah korban di Dusun Tempur, Desa Pagak, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang. Syaiful Anvar, 8, tewas di tangan ibu kandungnya, Ani Musrifah, 32, (bukan 42).

Syaiful tewas setelah dipukuli membabi buta oleh ibunya, Selasa (19/6) sore. Usai dibawa ke Puskesmas Pagak dan dirujuk ke RS, bocah yang dikenal lincah ini menghembuskan nafas terakhir saat perjalanan mendapatkan perawatan di RSUD Kanjuruhan, Rabu (20/6) dini hari, sekitar pukul 03.00

Rumah yang bisa dibilang cukup bagus dengan cat warna kuning dominasi ungu itu, tampak sepi. Hanya terlihat beberapa saudara dan pelayat datang.

Tidak jauh dari rumah korban, terdapat kediaman Marsilan, 50. Dia merupakan paman kandung Syaiful, dan juga orang yang melaporkan kejadian ini ke Polres Malang.

Fakta baru terungkap terkait dengan kematian Syaiful, seperti yang Selasa (19/6) petang, Syaiful diseret oleh ibunya dari halaman ke dalam rumah. Saat itu, siswa SDN Pagak 4 itu pulang dalam kondisi kotor usai bermain layangan.

Begitu di dalam rumah, pintu segera ditutup rapat. Ani yang dikenal tidak akrab dengan tetangga itu lantas memukuli korban secara membabi buta.

Bahkan, Marsilan bisa mendengar suara debum dari dalam rumah. Dari balik jendela, dia melihat kemenakannya ini dipukuli oleh Ani.

"Sampai dengar suara bak buk bak buk. Saya kira dia dipukuli, tapi nggak tahu entah dibenturkan tembok atau tidak, nggak tahu. Yang jelas terdengar suara seperti orang digebuki," kata Marsilan, ditemui di rumahnya, Kamis (21/6).

Bahkan, laki-laki yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan ini sempat mendengar teriakan minta tolong dari dalam rumah Ani. Namun, karena pintu terkunci rapat, dia tidak dapat menolong Syaiful.

"Ada teriakan tolong-tolong, sambil bilang uwis buk, uwis buk (sudah Bu, sudah Bu). Ampun," kata Marsilan mengikuti ucapan korban.

Teriakan korban dan suara gebukan itu sempat terhenti selama beberapa waktu. Marsilan mengira, Ani sudah puas memukuli korban.

Namun, dugaannya salah. Ternyata di dalam kamar mandi, Ani kembali memukul korban menggunakan gayung dan mengguyur Syaiful dengan air.

Sekitar pukul 21.00, masih di hari yang sama, Ani tiba-tiba saja mengetuk pintu rumah Marsilan. Dia minta tolong karena mendapati anaknya dalam kondisi kejang.

Saudara yang tengah berkumpul segera mendatangi kamar tengah, tempat Syaiful berada. Marsilan segera menyarankan agar dibawa ke layanan kesehatan terdekat.

"Saya bilang harus segera dibawa ke kesehatan. Jika tidak bisa meninggal anak ini, karena sudah kejang. Bahkan matanya sudah terbelalak dengan pandangan kosong," bebernya menggunakan bahasa Madura bercampur Jawa.

Marsilan meminta penjelasan kepada Ani penyebab Syaiful hingga kejang seperti itu. Dari Ani, dia mendapatkan keterangan bahwa kemenakannya kejang usai jatuh.

"Dia nggak bilang jika baru saja dipukuli. Saya yang mengejar dan mengatakan bahwa melihat ketika dia memukuli kemenakan saya," ceritanya.

Tak ingin berdebat lama, mereka lantas membawa korban ke Puskemas Pagak. Namun, kemudian dirujuk ke RS Hasta. Karena peralatan di rumah sakit ini kurang memadai, akhirnya dirujuk ke RSUD Kanjuruhan menggunakan ambulance.

"Di jalan itu dia sudah ngorok saja. Meninggal saat akan dirawat di Kanjuruhan sana," katanya.

Begitu mendapati kemenakannya meninggal. Dia segera melaporkan kejadian ini ke polisi. Tujuannya, Marsilan hanya ingin mendapatkan keadilan saja.

"Kalau penganiayaan sampai mati tidak mendapatkan hukuman, terus bagaimana?" keluhnya.

Sementara itu, ayah korban, Marliad, 35, yang terlihat duduk di teras rumahnya, tampak tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Dia hanya tertunduk lesu ketika menyalami pelayat.

Sesekali menghapus air mata yang akan menetes. Sayang, Marliad masih enggan berkomentar. Dia terlihat sangat terpukul.

Kasus ini ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Malang. Status Ani sudah tersangka.

"Tersangka kami jerat dengan pasal 80 ayat 3 dan 4 UU nomor 23 tahun 2002, tentang perlindungan anak. Ancaman hukumannya 20 tahun penjara," tegas Kepala UPPA Ipda Yulistiana Sri Iriana.

(tik/JPC)

Download Aplikasi Berita Radar Pribumi di SINI

Silahkan KLIK LIKE :







Tidak ada komentar