Header Ads

Sejarah Masjid Tertua di Medan, Arsiteknya Orang Jerman


Menyusuri jejak kejayaan Islam di tanah Melayu, kita memulainya dari Masjid Al Osmani di Jalan K L Yos Sudarso, Kelurahan Pekanlabuhan, Kecamatan Medanlabuhan, Kota Medan, Sumatera Utara.

Masjid cantik yang terkenal dengan nama Masjid Labuhan ini berada di tepi jalan yang padat kendaraan, sekitar 21 kilometer jaraknya dari pusat Kota Medan.

Para pengguna jalan yang melintas pasti akan menoleh sebab warna kuningnya begitu mencolok, khas Melayu. Usia yang sudah menginjak 164 tahun tak memudarkan keelokan masjid di kawasan Medan Utara ini. Masjid Al Osmani adalah rumah ibadah Islam tertua di Kota Medan, buah tangan arsitek Jerman GD Langereis.

Saat itu, Sultan Deli Mahmud Perkasa Alam yang tak lain putra kandung Sultan Osman Perkasa Alam meminta Langereis merenovasi masjid yang masih berbentuk bangunan sederhana dari kayu dalam tempo tiga bulan.

Permintaan sultan terpenuhi dengan lahirnya bangunan megah yang kuat unsur arsitektur India, Tiongkok, Timur Tengah, Eropa dan Melayu.

"Masjid dibangun Sultan Deli ke tujuh, Sultan Osman Perkasa Alam. Awalnya hanya rumah panggung dari kayu seukuran 16 kali 16 meter. Tujuan didirikan masjid untuk mengumpulkan umat Islam, suku Melayu, dan sebagai tempat pertemuan sultan dengan rakyatnya,” kata Ketua Pengurus Masjid Ahmad Fahruni, Jumat (25/8/2018).

Di masa Sultan Mahmud, mulai 1870 sampai 1872 masjid mengalami banyak perombakan. Mulai ukuran dan luas, desain bangunan, sampai bahan bangunan. Meski berkali-kali mengalami pemugaran, arsitektur asli tetap dipertahankan.

Pada pintu masjid digunakan ornamen Tiongkok, ukiran di setiap bangunan bernuansa India, arsitekturnya ala Eropa, ornamen-ornamennya bernafaskan Timur Tengah. Kubah tembaga bersegi delapan berumur seabad lebih mengikuti gaya India, beratnya mencapai 2,5 ton.

"Ada tujuh kali direnovasi. Dominasi warna kuning keemasan karena ini warna kebanggaan Suku Melayu. Artinya megah dan mulia. Dipadu hijau yang filosofinya ke-Islaman dan kemakmuran," ucap Fahruni.

Pria yang sehari-hari mengajar Agama Islam di sekolah milik Yayasan Pendidikan Islam yang bangunannya tepat di seberang masjid, menjelaskan, istana Kesultanan Deli dulunya berada di depan masjid.

Lalu bergeser menuju tengah kota dengan mendirikan Istana Maimun. Warna, kubah hitam, corak dan ornamen Istana Maimun adalah duplikat dari Masjid Al Osmani.

Setelah tak ada lagi kerajaan, masjid seluas dua hektar itu berfungsi sebagai rumah ibadah, tempat memperingati perayaan besar keagamaan dan tempat pemberangkatan menuju pemondokan jamaah haji asal Medan utara. Masjid yang bisa menampung 1.000 orang ini pada 2016 lalu ditetapkan menjadi cagar budaya Kota Medan.

Sebagai saksi bisu sejarah, di halaman depan dan samping masjid berdiam pusara keluarga kesultanan. Lima Raja Deli yaitu Tuanku Panglima Pasutan (Raja Deli IV), Tuanku Panglima Gandar Wahid (Raja Deli V), Sulthan Amaluddin Perkasa Alam (Raja Deli VI), Sultan Osman Perkasa Alam, dan Sultan Mahmud Perkasa Alam, pun dikuburkan di sini. Termasuk makam permaisuri dari kesultanan Malaysia.

"Tapi tak hanya kuburan keluarga kesultanan, masyarakat umum juga dikuburkan di sini," ungkapnya.

Jika Ramadhan, lanjut dia, masjid menyediakan penganan khas Melayu untuk hidangan utama berbuka puasa. Namanya bubur pedas.

"Ini makanan khas Melayu, dulu selama puasa kita sajikan setiap hari. Sekarang setiap Kamis saja. Waktu berbuka dan salat kita pukul bedug yang umurnya hampir seratus tahun. Kalau Ramadhan, suara bedugnya kita keraskan supaya warga mendengarnya," katanya mengakhiri. (kompas)

Download Aplikasi Berita Radar Pribumi di SINI

Silahkan KLIK LIKE :







Tidak ada komentar