Header Ads

Pengamat Politik : Rizieq Bukan Simbol Oposisi atau Pemersatu. Dia Cuma Ada Kasus Lalu Melarikan Diri


Pengamat komunikasi politik Ari Junaedi meragukan efektivitas imbauan Habib Rizieq Shihab dari Mekah ke kalangan muslim di Indonesia agar memilih ‎Prabowo Subianto di Pemilu Presiden (Pilpres) 2019.

Dalam analisis Ari, imbauan Rizieq saat bertemu Wakil Sekjen DPP Partai Gerindra Andre Rosiade di Mekah itu hanya untuk menunjukkan ‎kesan bahwa pendiri Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) tersebut masih didengar umat Islam di Indonesia.

"Saya rasa dia hanya ingin menunjukkan (eksistensi, red). Tapi kembali lagi, apakah nanti terbukti atau tidak. Saya kurang yakin tuh dengan pernyataan Habib Rizieq," ujar Ari kepada JPNN, Minggu (25/3).

Ari kemudian memaparkan beberapa alasan yang mendasari analisisnya. Antara lain pemilih Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2014 lebih banyak ketimbang pendukung Prabowo.

"Walaupun ada pengaruh Rizieq, enggak berpengaruh besar. Pilpres 2019 itu saya rasa lebih cair," ucapnya.

Dosen di Universitas Indonesia itu juga mengatakan, Rizieq tak bisa disebut sebagai simbol perlawanan oposisi terhadap pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. Karena itu Ari juga mempertanyakan kemampuan Rizieq dalam menyatukan banyak pihak.

"Simbol perlawanan oposisi itu seperti Megawati Soekarnoputri melawan rezim Soeharto. Kalau ini (Rizieq, red) kan ada kasus, kemudian melarikan diri ke luar negeri. Jadi bukan tergolong sebagai pihak oposisi," kata Ari.

Sebelumnya Wakil Sekjen DPP Gerindra Andre Rosiade menemui Habib Rizieq di Mekah, Rabu lalu (21/3). Rizieq dalam pertemuan Rizieq menyarankan agar Gerindra, PKS, PAN dan PBB berkoalisi.(gir/jpnn)

Download Aplikasi Berita Radar Pribumi di SINI

Silahkan KLIK LIKE :







Tidak ada komentar