Header Ads

Pernyataan Pemerintah Turki ini Menampar Para Pemimpin Negara Muslim Dunia!

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melalui Menteri luar negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengeluarkan pernyataan yang menampar seluruh pemimpin negara muslim di dunia.

Mevlut Cavusoglu mengatakan kepada pihak berwenang Bangladesh untuk membolehkan pengungsi Rohingya memasuki wilayahnya.

Mevlut Cavusoglu juga berjanji bahwa Turki akan menanggung seluruh biaya yang terkait masuknya warga Rohingya tersebut.

Pernyataan ini sekaligus menampar para pemimpin negara muslim di dunia yang hingga ini tidak melakukan upaya apapun demi menghentikan pembunuhan massal etnis Rohingya.

Bangladesh sudah menampung 400.000 Rohingya dan mengatakan tidak menginginkan lebih.

"Kami telah meminta Organisasi Kerjasama Islam," kata Cavusoglu. "Kami akan mengorganisir sebuah pertemuan puncak tahun ini [pada masalah ini] ... kita harus menemukan solusi pasti untuk masalah ini."

Dewan keamanan PBB telah melakukan pertemuan tertutup terkait Rohingya, tapi hingga kini belum ada pernyataan resmi.

Pada hari Jumat Guterres mengatakan bahwa dia "sangat prihatin" dengan situasi di Myanmar dan menyerukan "pengekangan dan ketenangan untuk menghindari bencana kemanusiaan".

Rohingya dikenai perlakuan kasar di Myanmar, di mana masyarakat sekitar satu juta orang dituduh sebagai imigran gelap dari Bangladesh.

Ketegangan yang berlangsung lama antara Muslim Rohingya dan umat Budha meletus dalam kerusuhan berdarah pada tahun 2012, memaksa lebih dari 100.000 Rohingya ke kamp-kamp pengungsian, di mana masih banyak yang tinggal.

Saat para pengungsi melintasi perbatasan ke Bangladesh, seorang petugas polisi di daerah Teknaf Cox Bazar mengatakan 21 mayat Rohingya ditemukan mengapung di Sungai Naf. Mohammed Mohiuddin Khan mengatakan dua di antaranya memiliki luka peluru.

Pada hari Kamis, tiga kapal dengan pengungsi terbalik, menewaskan sedikitnya 26 orang, termasuk wanita dan anak-anak, kata polisi.

"Pemerintah Myanmar harus menghentikan kebrutalan ini," kata Phil Robertson, wakil direktur Asia untuk Human Rights Watch.

Pelapor khusus PBB mengenai situasi hak asasi manusia di Myanmar, Yanghee Lee, menyatakan keprihatinannya "bahwa ribuan orang semakin berisiko mengalami pelanggaran berat hak asasi mereka."

AFP/AP/AA

Download Aplikasi Berita Radar Pribumi di SINI

Silahkan KLIK LIKE :







Tidak ada komentar