Header Ads

Pernah Lawan Belanda dan Marinir AS, Kini Sewakan Timbangan Badan demi Sesuap Nasi


Emin Dudung, seorang veteran perang 45 hidup kekurangan di senja usianya. Dia berkeliling kota Bandung menjajakan jasa menyewakan timbangan badan. Pria berusia 80 tahun lebih ini sekadar mencari sesuap nasi. Penghasilannya tak tentu. Jumlah orang yang mau ditimbang badan di tempat umum bisa dihitung dengan jari.

Kakek tua ini sudah ompong, bicaranya pun tak jelas karena usia. Tanta Bagus Dewanto, anggota Komunitas Historia Van Bandung pernah berbincang sejenak dengan veteran tersebut.

"Beliau dulu mengaku pernah ikut latihan Heiho tahun 1943. Latihannya berat sekali katanya," ujar Tanta saat berbincang dengan merdeka.com.

Pada periode tersebut tentara Jepang memang merekrut banyak pemuda Indonesia untuk dijadikan pembantu tentara Jepang atau Heiho. Mereka bertugas melakukan pekerjaan kasar seperti mengangkut amunisi dan menggali lubang perlindungan.

Namun tak jarang pula Heiho ikut bertempur bersama tentara Jepang jika keadaan sudah terdesak. Pak Emin ikut dikirim ke Pasifik. Dia berperang melawan serangan Marinir Amerika Serikat.

Beliau lalu dipulangkan ke Indonesia. Begitu Indonesia merdeka, Pak Emin bergabung dengan perjuangan Indonesia. Dia melatih para pemuda Indonesia untuk bertempur melawan Belanda.

Pengalaman bertempur di Pasifik sangat berguna bagi angkatan perang Indonesia yang baru terbentuk. "Pak Emin sempat melatih kemiliteran para pemuda di Cikawao, Bandung," kata Tanta.

Emin pun ikut hijrah ke Yogyakarta bersama pasukan Siliwangi tahun 1947 sebagai buntut perjanjian RI dan Belanda.

Saat Belanda kembali menyerang tahun 1948, dia kembali ke Jawa Barat untuk berperang. Yang mereka hadapi tak cuma Belanda, tetapi serangan gerilyawan Kartosuwiryo di Jawa Barat.

Kini di hari tuanya, Emin masih harus berjuang. Bukan melawan Belanda, tetapi berjuang mencari sesuap nasi.

Kisah Emin diposting oleh seorang siswa SMU di Bandung, Nadiah Nurul Fauziah di facebooknya. Nadia merasa sedih pejuang yang punya peran dalam kemerdekaan bisa bernasib seperti ini.

Ribuan orang membagikan kisah ini di jejaring sosial. Mereka menyesalkan kurangnya perhatian pemerintah pada nasib para veteran.

Presiden Soekarno pernah berkata. "Hanya bangsa yang besar yang bisa menghargai jasa para pahlawannya."

Maka apakah kita adalah bangsa yang besar? [bal]

Download Aplikasi Berita Radar Pribumi di SINI

Silahkan KLIK LIKE :







Tidak ada komentar