Header Ads

Wartawan Senior Bongkar Sosok Rocky Gerung, "Politisi Berbaju Dosen Ilmu Filsafat!"


SAYA tergerak untuk menguak informasi minim tentang Prof. Rocky Gerung (RG).

Bahwa RG sejak 2008 sudah terjun dalam politik praktis.

RG merupakan salah seorang inisiator dari berdirinya Partai SRI.

Tokoh utama Partai SRI, Rachman Tolleng, yang juga dikenal sebagai pendiri Golkar di tahun 1960-an.

Rachman Tolleng atau Partai SRI, 10 tahun lalu memang banyak merekrut akademisi dari Universitas Indonesia, termasuk wartawan.

Salah seorang wartawan senior yang aktif di Partai SRI di kala itu, Fikri Jufri, yang juga dikenal sebagai pendiri majalah "Tempo".

Saya mengenal Rachman Tolleng tahun 1980-an, saat saya ditugaskan redaktur "Sinar Harapan" mewawancarainya di Bandung. Dan di 10 tahun lalu, saya beberapa kali bertemu dan bicara dengannya tentang SRI dan SMI.

Dengan info di atas, kalau ada pihak yang masih menganggap pernyataan RG - seperti di forum ILC (Indonesia Lawyers Club) Selasa 10 April 2018, masih dalam kapasitasnya sebagai dosen filsafat, hal itu menurut saya merupakan sebuah pembiasan. Atau kekeliruan yang disengaja.

Terjunnya RG dalam dunia politik praktis, 10 tahun lalu, tidak saya dengar dari orang kedua, ketiga, apalagi kelima dan seterusnya. Atau "katanya, katanya".

Melainkan karena saya sendiri pernah hadir dalam diskusi Partai SRI - dimana RG sebagai pembicara ataupun narasumber.

"Markas" Partai SRI pada waktu itu, masih di bilangan, daerah Guntur, Manggarai, Jakarta Selatan. Kantor Partai SRI yang berlokasi di Jl. Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat saat itu masih dalam renovasi.

Saya hadir di acara diskusi Partai SRI itu, karena diajak oleh sahabat Facebook asal NTT, yang berdomisili di Jakarta.

Karena ingin tahu bagaimana visi Partai SRI dalam mendukung Sri Mulyani Indrawati (SMI) menjadi Presiden 2009-20014, saya penuhi ajakan tersebut.

SMI sendiri pada waktu itu belum lama "dipecat" oleh Presiden SBY sebagai Menteri Keuangan. Namun dalam waktu yang relatif singkat, SMI terbang ke Washington, karena sudah diterima oleh Bank Dunia.

Jabatan SMI, Managing Director.

Keberadaan SMI di Bank Dunia, menurut pemantauan saya, telah menambah optimisme Rahman Tolleng ataupun RG dkk bahwa di Pilpres 2009, sosok yang dicalonkan oleh Partai SRI bakal menjadi RI-1 untuk periode 2009-2004.

Namun entah mengapa, Partai SRI, tidak jadi ikut Pemilu 2009.

Testimoni ini perlu saya ungkap, bukan karena saya tidak setuju semua pernyataan RG di forum ILC kemarin.

Pengungkapan ini untuk menghindari persepsi yang (mungkin) berkembang, bahwa sebagai dosen filsafat, dia, RG masih seorang akademisi yang non-partisan.

Sebagai non-partisan atau orang netral, pandangannya pasti orisinil.

Persepsi itu menurut saya sebuah kekeliruan besar dan bahkan menyesatkan.

Sebelumnya, saya tertarik dengan ungkapan-ungkapannya. Tapi pelan dan pasti, dari waktu ke waktu pandangan-pandangannya sudah dimuati titipan atau sponsor.

Bagi saya menjadi sosok yang menerima titipan atau disponsori, di era sekarang sah-sah saja. Hal itu tidak menjadi "sah" kalau kita berpura-pura atau tidak berterus terang.

Dari semua pernyataannya yang menganggu saya terletak dalam wilayah keyakinan. Yaitu ketika ia menyebut bahwa isi kitab suci itu, fiksi.

Dia lupa, Ahok, Basuki Tjahaja Purnama, dinilai menista agama Islam karena mengutip isi atau ayat Qur'an.

Jadi penyebutan isi kitab suci itu fiksi, tanpa disadarinya sesungguhnya bisa menimbulkan perdebatan panjang.

Ahok atau penista agama lainnya, tak harus berurusan dengan hukum, jika yang disinggung cuma soal isi kitab suci yang notabene menurut RG hanya fiksi.

Dan karena soal fiksi itu disampaikannya berulang-ulang, saya menganggap RG sudah kehilangan nalar sensitifitasnya dan intelektualitasnya.

Namun ketika saya menyaksikan kembali tayangan ulangan atas pernyataannya itu, saya memperoleh kesan, RG sesungguhnya keblablasan bicara.

Dia terpengaruh oleh suasana. Dia terbuai dengan suasana. Di mana saat dia bicara, semua mendengarkannya secara hening.

Seolah dia memperoleh jawaban, auidens yang hadir di forum itu, menyetujui semua pendapatnya.

Secara psikologis, RG merasa oleh audiens dianggap sebagai sosok atau akademisi yang disegani atau dihormati.

Mendapat penghormatan seperti ini apalagi disiarkan oleh sebuah TV nasional secara langsung, adrenalin rasa bangganya menjadi-jadi.

Sikap hormat dari audiens, ditambah mungkin dia merasa "diberi panggung istimewa" oleh Karni Ilyas, Presiden ILC, maka cara dia sewaktu membahas soal fiksi, berlebihan.

Dia terjebak dengan soal definisi yang kalau didebat malam itu, belum tentu dia benar apalagi "menang".

Sejatinya, RG mungkin tidak mau bicara tentang kitab suci itu sebagai buku yang hanya berisikan fiksi.

Tetapi karena RG punya kepentingan membela seorang tokoh yang selama dua bulan - menurutnya, dibully isu soal fiksi,  akhirnya yang dilakukannya memperkuat definsi fiksi itu. Sesuai versinya.

Saya bukan seorang psikolog. Saya hanya belajar psikologi massa sewaktu kuliah mengenai teori jurnalistik di Perguruan Tinggi Publisistik, Jakarta lebih dari 40 tahun lalu.

Ditambah dengan pengalaman bertemu dengan dan berbicara dengan ribuan atau mungkin ratusan ribu manusia,  yang karakter mereka berbeda-beda, maka saya tertarik mencermati bahasa tubuh atau "body language" RG.

Terutama saat dia buka jas atau jaket. Karena katanya, hawanya terasa panas. Setahu saya temperature di ruang pertemuan itu, cukup dingin.

Nah dari caranya membuka jaket atau jas, saya tandai mimiknya yang berubah.

Seperti ada beban psikologis. Disini saya menilai, RG sebetulnya sedang berusaha membuang beban itu atau "menutupi" kelemahan atau kebablasannya soal fiksi.

Ini terjadi, karena ada tiga orang pendukung Jokowi yang hadir di acara itu yang langsung "menyerang" dengan pertanyaan tajam.

Ketiganya Ria Latifah SH, anggota DPR RI dari PDIP yang suaminya Helmy Fauzi menjabat Dubes RI saat ini di Kairo, Mesir. Satunya lagi dari PDIP - maaf tiba-tiba lupa namanya, dan Faisal Akbar dari Partai Nasdem.

Mendapat pertanyaan tajam dari ketiga politisi itu, RG berusaha mengalihkan topik yang ditanya.

Dan dari cara RG menjawab ketiga politisi pendukung Jokowi ini, akhirnya terkuak, dosen UI tersebut sesungguhnya sadar bahwa yang dia hadapi adalah orang-orang yang memiliki jam terbang politik yang cukup.

Menyimak apa yang dikemukakan RG soal Presiden Jokowi, menurut penafsiran saya, sangat jelas, aksentuasi pesannya, sangat berat dengan muatan politik.

Muatan politik itu saya duga titipan dari lawan politik Jokowi.

RG antara lain "mengolok-olok" Jokowi yang naik sepeda motor Chopper yang katanya tidak sesuai berat badannya. Mestinya yang naik Chopper, harus yang memiliki berat badan sampai 90 kg.

Kesimpulan ini saja menurut saya, berlebihan. Saya punya beberapa sahabat yang naik motor gede - sejenis Chopper, namun berat badan mereka tidak harus mencapai 90 kg.

Di sini sangat kuat kesan RG memanfaatkan forum ILC untuk "menyerang" Presiden Jokowi. Sementara forum itu sendiri bukan dirrancang untuk forum mendebat Jokowi naik motor Chopper.

Kesimpulan gamblang, RG, bukanlah seorang dosen yang non-partisan.

Dia seorang politisi. Tapi badan politisi dirinya dia bungkus dengan baju dosen ilmu filsafat.

Saya senang sekali jika RG mau merenspon soal pertemuan kami di kawasan Guntur 10 tahun lalu itu.

Agar jelas apakah yang saya ungkap FIKSI atau FAKTA.

Brur, semoga ngana bae-bae jo. Torang samua basudara. [***]

Penulis adalah wartawan senior
Silahkan KLIK LIKE :







Tidak ada komentar